Sebenarnya, masalah sakit kepala di tengah hubungan intim merupakan hal yang umum terjadi. Penelitian yang dilakukan Loyola University Medical Center, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa hampir semua orang dewasa, setidaknya pernah mengalami satu atau dua kali sakit kepala saat bercinta.
Sakit kepala jenis ini ternyata dikategorikan dalam kelompok tersendiri, yakni headaches associated with sexual activity (HAS) atau sakit kepala yang berhubungan dengan aktivitas seksual.
“Tapi mereka biasanya enggan mengutarakannya pada pasangan. Dokter pun kerap kali tidak menanyakan hal tersebut,” ujar Dr. Jose Biller, Pemimpin Departemen Neurologi Loyola University Medical Center.
Adapun, sakit kepala yang berkaitan dengan seks, kerap dikaitkan dengan kaum hawa. Terdapat anekdot yang menyatakan bahwa wanita kerap menghindari seks dengan alasan sakit kepala.
Padahal, itu bukan sekedar lelucon. HAS bisa sangat mengganggu akibat rasa sakit menyiksa dan bisa menjadi gejala penyakit yang lebih akut.
“HAS bisa membuat frustasi, tidak hanya bagi penderitanya, tapi juga bagi pasangan. Rasa sakitnya bisa sangat menyiksa,” papar Dr Biller.
Berbeda dengan sakit kepala seperti migrain atau yang disebabkan leher yang tegang, HAS justru bisa jadi merupakan gejala penyakit lain yang lebih membahayakan.
“Bisa jadi menandakan adanya perdarahan di kepala, aneurisme otak, gejala awal stroke, atau subdural hematoma,” sebut Dr. Biller.
Oleh karena itu, Dr. Biller menganjurkan agar mereka yang kerap mengalami sakit kepala ketika bercinta segera menghubungi dokter dan melakukan pemeriksaan saraf secara menyeluruh. Pemeriksaan yang paling penting, sebut Dr. Biller, adalah ketika sakit kepala muncul secara mendadak.
Bercinta, termasuk kategori olahraga dengan intensitas sedang hingga berat. Bagi mereka yang tidak terbiasa berolahraga, melakukan percintaan secara maraton, bisa memicu sakit kepala secara mendadak.
Adapun, hubungan antara bercinta dengan sakit kepala, sebelumnya telah disebutkan pada era Yunani Kuno oleh Hippocrates. Pada 2004, International Headache Society, mengklasifikasikan HAS sebagai kategori baru sakit kepala.
Penelitian lain yang juga dilakukan Loyola menyebutkan, pria lebih rentan terserang sakit kepala jenis ini dibanding wanita. “Pria sebenarnya lebih rentan, karena mereka lebih banyak melakukan aktivitas saat bercinta ketimbang wanita,” ujar Dr. Biller.
Ada tiga tipe
Dilansir Science Daily, terdapat tiga tipe sakit kepala akibat bercinta, yakni:
Sakit kepala jenis ini ternyata dikategorikan dalam kelompok tersendiri, yakni headaches associated with sexual activity (HAS) atau sakit kepala yang berhubungan dengan aktivitas seksual.
“Tapi mereka biasanya enggan mengutarakannya pada pasangan. Dokter pun kerap kali tidak menanyakan hal tersebut,” ujar Dr. Jose Biller, Pemimpin Departemen Neurologi Loyola University Medical Center.
Adapun, sakit kepala yang berkaitan dengan seks, kerap dikaitkan dengan kaum hawa. Terdapat anekdot yang menyatakan bahwa wanita kerap menghindari seks dengan alasan sakit kepala.
Padahal, itu bukan sekedar lelucon. HAS bisa sangat mengganggu akibat rasa sakit menyiksa dan bisa menjadi gejala penyakit yang lebih akut.
“HAS bisa membuat frustasi, tidak hanya bagi penderitanya, tapi juga bagi pasangan. Rasa sakitnya bisa sangat menyiksa,” papar Dr Biller.
Berbeda dengan sakit kepala seperti migrain atau yang disebabkan leher yang tegang, HAS justru bisa jadi merupakan gejala penyakit lain yang lebih membahayakan.
“Bisa jadi menandakan adanya perdarahan di kepala, aneurisme otak, gejala awal stroke, atau subdural hematoma,” sebut Dr. Biller.
Oleh karena itu, Dr. Biller menganjurkan agar mereka yang kerap mengalami sakit kepala ketika bercinta segera menghubungi dokter dan melakukan pemeriksaan saraf secara menyeluruh. Pemeriksaan yang paling penting, sebut Dr. Biller, adalah ketika sakit kepala muncul secara mendadak.
Bercinta, termasuk kategori olahraga dengan intensitas sedang hingga berat. Bagi mereka yang tidak terbiasa berolahraga, melakukan percintaan secara maraton, bisa memicu sakit kepala secara mendadak.
Adapun, hubungan antara bercinta dengan sakit kepala, sebelumnya telah disebutkan pada era Yunani Kuno oleh Hippocrates. Pada 2004, International Headache Society, mengklasifikasikan HAS sebagai kategori baru sakit kepala.
Penelitian lain yang juga dilakukan Loyola menyebutkan, pria lebih rentan terserang sakit kepala jenis ini dibanding wanita. “Pria sebenarnya lebih rentan, karena mereka lebih banyak melakukan aktivitas saat bercinta ketimbang wanita,” ujar Dr. Biller.
Ada tiga tipe
Dilansir Science Daily, terdapat tiga tipe sakit kepala akibat bercinta, yakni:
1. Rasa tegang di bagian leher dan kepala bawah tepat sebelum orgasme dan terus meningkat hingga kegiatan bercinta usai.
2. Rasa sakit berdenyut pada kepala ketika orgasme dan tidak hilang bahkan selama beberapa jam setelah bercinta, disebut thunderclap headache.
3. Sakit kepala hebat yang dialami setelah bercinta dan berlangsung selama beberapa waktu. Sakit kepala ini akan bertambah parah ketika berdiri dan berkurang jika berbaring. Hal ini terjadi karena adanya kebocoran internal di cairan tulang belakang dan menyebabkan otak turun dan menekan tulang.
Lalu, bagaimana cara mengatasi HAS tanpa bantuan obat-obatan? Dr Biller menyarankan olahraga teratur yang membantu menjaga stamina, mengurangi asupan minuman beralkohol, serta mempertahankan berat badan ideal.
2. Rasa sakit berdenyut pada kepala ketika orgasme dan tidak hilang bahkan selama beberapa jam setelah bercinta, disebut thunderclap headache.
3. Sakit kepala hebat yang dialami setelah bercinta dan berlangsung selama beberapa waktu. Sakit kepala ini akan bertambah parah ketika berdiri dan berkurang jika berbaring. Hal ini terjadi karena adanya kebocoran internal di cairan tulang belakang dan menyebabkan otak turun dan menekan tulang.
Lalu, bagaimana cara mengatasi HAS tanpa bantuan obat-obatan? Dr Biller menyarankan olahraga teratur yang membantu menjaga stamina, mengurangi asupan minuman beralkohol, serta mempertahankan berat badan ideal.

Posting Komentar